Yogyakarta-Kenaikan pengunjung Galeri wayang yang ada
di museum Sasono Budoyo Yogyakarta justru terjadi ketika musim liburan di Eropa
dan Jepang. Hal ini karena mayoritas pengunjung justru berasal dari kedua
wilayah tersebut.
“Biasanya ramai dikunjungi turis Eropa ketika bulan
Juni, Juli, Agustus. Tapi kalau turis dari Jepang menjelang Desember-Januari”,
tutur Sulistyo, pemilik Galeri wayang di Sasono Budoyo ketika di wawancarai
pada Selasa, 18 Desember 2012.
Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat penjualan wayang
di
galeri milik Sulistyo.
Galeri tersebut menampilkan serta menjual wayang dalam berbagai ukuran. Ukuran
yang paling kecil dibanderol seharga Rp 200.000,00 sedangkan yang paling besar
bisa mencapai Rp 3.000.000,00.
“Turis asing biasanya lebih tertarik untuk membeli
yang kecil karena muat masuk ke dalam tas mereka. Tapi ada pula yang beli
ukuran besar dan minta dipaketkan”, kata Wahyudi, penjaga dan pembuat wayang di
Galeri tersebut.
Pembuatan wayang bisa memakan waktu yang cukup lama
tergantung besarnya dan kerumitan setiap detail. Wayang-wayang yang terdapat di
museum ini dibanderol cukup mahal karena menggunakan kulit kerbau sebagai bahan wayang dan mineral
untuk pewarnanya.
“Mineralnya kami ambil langsung dari desa-desa yang
ada di wilayah Yogyakarta. Kami menggunakan pewarna yang diolah secara
tradisional”, jelas Wahyudi.
Sedangkan wisatawan Indonesia justru tidak terlalu
tertarik untuk
berkunjung ke galeri wayang tersebut. Ketika ada acara Sekaten di alun-alun
utara tidak membuat terjadinya peningkatan jumlah turis lokal. Padahal jarak
antara alun-alun utara dengan musem Sasono Budoyo sangat dekat.
“Sekaten tidak mempengaruhi peningkatan pengunjung
wisatawan lokal ke sini. Mayoritas pengunjung tetap wisatawan mancanegara”,
ungkap Sulistyo
Teks dan Foto: @Virdita





0 komentar:
Posting Komentar