My world..i can tell to you about my experience..everything in my mind..
My Daily Life
Daily life
-
KSB June 2012
Pentas seni, budaya, makanan dari Indonesia Timur.
-
Night at Yogyakarta, December 2012
Liputan ujian akhir semester mata kuliah Penulisan Naskah Berita.
-
Merbabu 3142 mdpl
Pertama kali dan mungkin terakhir kalinya naik gunung. Unforgetabble moment.June 2013
-
Wediombo Beach July 2013
Susur pantai tapi gagal. Awalnya mencari Pok Tunggal tapi sampai ke Wediombo. The best moment was found the beautiful reef.
-
Indonesian Kitchen Throughout the Ages
Pameran kuliner, resep masak sejak jaman Hindia Belanda, alat masak tempo dulu. Demo masak poffertjes. Erasmus Huis. 24 August 2013.
BATIK BUDAYA INDONESIA yang TELAH TERAKUI
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Pada awalnya baju batik kerap dikenakan pada acara acara resmi untuk menggantikan jas. Tetapi dalam perkembangannya pada masa Orde Baru baju batik juga dipakai sebagai pakaian resmi siswa sekolah dan pegawai negeri (batik Korpri) yang menggunakan seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan selanjutnya batik mulai bergeser menjadi pakaian sehari-hari terutama digunakan oleh kaum wanita. Pegawai swasta biasanya memakai batik pada hari kamis atau jumat. Dengan berkembangnya zaman, maka batik pun ikut berkembang. Sekarang batik tidak lagi hanya dipakai oleh kaum tua saja tapi juga kaum muda. Banyak pengrajin batik yang mulai mencoba mengkreasikan batik dengan baju-baju yang kasual seperti sering kita jumpai batik kaos. Ataupun ada juga yang mulai membuat motif-motif baru yang tidak terlalu ‘batik’. Selain itu model baju batik pun sekarang bermacam-macam, sehingga baju batik sudah tidak terlalu terlihat formal. Dengan banyaknya batik seperti di atas tentunya membuat kita generasi muda sudah tidak enggan lagi memakai batik. Sehingga batik tidak hanya bisa dipakai untuk menghadiri acara-acara formal tapi juga bisa kita pakai saat bersama teman-teman. Terutama di saat sekarang setelah diresmikannya batik sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia tentunya kita harus semakin bangga untuk mengenakan pakaian batik dimanapun kita berada. Tetapi kita tidak boleh berhenti dengan berpuas diri terhadap pengakuan UNESCO terhadap batik. Dengan diakuinya batik sebagai budaya dunia milik Indonesia harus dapat memacu kita untuk terus berjuang demi diakuinya kebudayaan-kebudayaan Indonesia lainnya. Mungkin tahun ini batik, siapa tahu tahun depan kita bisa mematenkan angklung, atau reog Ponorogo, dan juga kebudayaan-kebudayaan lainnya. Mari kita jaga kebudayaan kita demi anak, cucu, dan semua bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Save our culture, guys. ^_^
Aku Hanya Ingin Menulis
Melampiaskan semua asa dan rasa
Berbagi pikiran
Untuk semua orang yang mau mendengarkan
Dan juga melihat serta mencoba merasakan
Tidak hanya mendengar
Tanpa tahu apa yang didengar
Hanya mau melihat
Tapi tidak berusaha merasakan apa yang mereka lihat
Aku hanya ingin menulis
Mencoba membiarkan semua angan tercurah dalam goresan jemari
Menjadi sebuah kata-kata abstrak dengan ribuan definisi
Tak perlu indah, tak berpuitis
Hanya sedikit memberi makna pada kertas putih kosong tak terjamah
Dengan sedikit bercerita
Menceritakan sesuatu yang ada
Sesuatu yang tampak nyata walau sebenarnya tak ada
Sesuatu yang dipaksa ada dan harus menjadi nyata
Aku hanya ingin menulis
Mencoba meringankan beban di dada
Berharap bisa lari dari masalah-masalah yang selalu mendera
Berharap masalah itu tak pernah ada
Akhirnya...akankah ku akan berhenti menulis
Berhenti meresapi realita atau aku kan tetap menulis
Sragen, 28 September 2009
By: Virdita R.R.
AKANKAH KITA TETAP BERSIKAP EGOIS
Mengapa kita tidak pernah mau mencoba untuk berbuat baik? Apakah karena kita sudah terlalu egois untuk sakedar melihat dan merasakan penderitaan orang-orang disekitar kita. Orang-orang yang tidak seberuntung kita, yang bahkan kita tidak pernah tahu dan tidak pernah melihat bahwa mereka ada. Pada abad ke-21 manusia hidup di era global, era yang sama sekali tidak menghargai adanya waktu, membuat waktu sama sekali tak berharga. Waktu adalah uang, dan uang adalah segalanya. Di era ini pula manusia telah beralih keyakinan, mereka tidak lagi menyembah ‘Tuhan’, Zat yang membuat mereka ada dan bisa menciptakan uang, tetapi mereka telah menjadi hamba setia sebuah benda bernama ‘Uang’. Pola kehidupan inilah yang membuat manusia hanya memikirkan diri sendiri dan bersifat individualis, membuat mereka menjadi kehilangan nurani mereka sebagai manusia. Lebih menonjolkan keegoisan dan menanggalkan sisi humanis mereka. Dengan begitu yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin, tenggelam, dan akhirnya mati di telan arus kehidupan yang sama sekali tidak berpihak terhadap mereka. Pola ini mirip ketika manusia masih berada di zaman kehidupan purba, dimana hanya berlaku adanya hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang, hanya sekarang sedikit ada perbedaan kata, ‘Siapa yang punya uang, dia yang akan menang’.
Sayangnya pola kehidupan ini telah diturunkan kepada generasi muda, bahkan anak-anak sekalipun. Penurunan terjadi melalui media cetak, maupun audio visual. Sehingga banyak kita temukan remaja-remaja yang bersifat ‘Selfish’. Sifat ini akan terbawa sampai mereka dewasa, bahkan mungkin sampai mereka kelak menjadi seorang pejabat maupun seorang petinggi. Dan inilah penyebab utama banyak pegawai-pegawai, karyawan, dan buruh melakukan aksi unjuk masa. Karena para atasan tersebut hanya akan memikirkan laba yang masuk ke perusahaan tanpa memikirkan kesejahteraan karyawan maupun buruh di perusahaan yang mereka bawahi. Ironis memang jika hal ini terus terjadi secara berkelanjutan. Negeri ini lama-kelamaan akan hancur jika para pemimpin dan petingginya menderita ‘Selfish’.
Sebenarnya kita dapat mencegah hal di atas agar tidak terjadi. Mulai sekarang kita bisa mendidik para remaja untuk sedikit peduli dengan hal-hal disekitar mereka. Bisa kita mulai hanya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, misalnya peduli Global Warming. Kita bisa memulainya dengan membuang sampah pada tempatnya. Mungkin hal itu sepele dan terlihat mudah, tapi perlu kedisplinan dan kesadaran yang tinggi akan betapa besarnya manfaat membuang sampah pada tempatnya itu. Karena kedisiplinan kita untuk membuang sampah pada tempatnya, orang-orang yang kebetulan melihat kita yang lebih memilih untuk menyimpan sampah kita di dalam kantong baju kita dan baru akan membuangnya ke tempat sampah yang kita temukan mungkin akan merasa heran melihat kelakuan kita. Dari rasa heran itu, akan muncul rasa penasaran dan akan membuatnya bertanya pada kita kenapa kita melakukan hal itu. Dari situlah kita akan menjelaskan tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita akan sedikit mengurangi dampak pemanasan global, sehingga laju pemanasan global dapat berjalan sedikit melambat. Hal itu membuat anak cucu kita setidaknya masih dapat menikmati bumi kita yang indah dan menghirup udara segar bumi kita. Ingat, kita harus peduli itu, dan tidak boleh bersikap egois, karena bumi ini adalah amanat dari anak cucu kita.
Hanya dengan perbuatan sepele kita dapat menghasilkan kebaikan yang tak terkira besarnya bagi seluruh makhluk di bumi ini. Kita dapat memperlambat laju global warming yang takkan pernah terbeli dengan uang seluruh umat di bumi bahkan ketika seluruh uang tersebut dikumpulkan menjadi satu tetap takkan mampu kita membeli apa yang telah kita buang dari bumi ini. Seperti kata sebuah pepatah ‘Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah diambil, sungai terakhir telah kering dan tanah terakhir telah tandus, kita baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan’. Bukankah telah jelas apa yang akan terjadi kelak jika kita, sebagai manusia tetap bersikap egois dan hanya memburu uang semata. Jika hal itu terjadi, akankah kita tetap bersikap egois? Tidak. Itukah jawabanmu, Teman? Jika ya, kenapa kita tidak menghilangkan keegoisan kita sedari sekarang? Mencoba mengikis keegoisan itu sedikit demi sedikit sebelum kita benar-benar mengalami hal seperti yang tertulis dalam pepatah tersebut. Bersama dengan saling bergenggaman tangan kita akan wujudkan bumi kita menjadi tempat berpijak yang nyaman bagi siapapun, dengan berjuta kebaikan dan tanpa keegoisan. Mari kawan, kita sayangi sesama, semua makhluk dengan rasa kepedulian kita terhadap nasib saudara kita. Save our planet.
Sragen, 19 Oktober 2009
By : Virdita R. R.
Hari Ketiga Produksi
Minggu, 26 Juli 2009
This my 3rd day…Rencana berangkat jam 05.30 gak taunya jam segitu malah baru bangun.Udah githu lupa lagi kalau harus nge-charge handycam. Padahal baaterai handycamnya benar-benaar udah habis. Akhirnya cuma di charge 1 jam, padahal mesti 5 jam!Tiba-tiba…Ting!!dapat ide buat nge-charge handycam di rumah pakde di Solo, sekalian pinjem handycam pakde.hhe. Jam 8 teng! Akhirnya berangkat juga ke Solo. Tak lupa mampir dulu donk ke rumah pakde. Setelah dapet pinjeman handycam kita langsung cabut ke lokasi produksi, jalan raya depan SMK N 6 Ska. Kita cari dulu nich ‘Dik Slamet’, tokoh utama film kita.hhe .
Gak taunya ternyata dik Slamet udah pulang…duch,kitanya malah kasian sama dik Slametnya. Pasti dia udah nunggu lama banget. Soalnya nich,kita sebenarnya janjian sama dik Slamet jam 06.30 pagi…eh gak taunya kita jam 9 baru sampai di lokasi syuting. Maafin kita ya,dik. And then we were going to dik Slamet’s home. Tenyata bener kalau dik Slamet udah pulang. Tapi di situ kita gak langsung ketemu sama dik Slamet, kita ketemu bapaknya dulu. Waduh..kita sempet bingung nich mau ngapain, soalnya kita takutnya kalau bapaknya gak respek sama kita, tapi malah ngusir kita. Karena gak berani masuk, kita nunggu di luar sampai dik Slamet pulang. Gak lama kemudian dik Slamet sampai rumah, habis main dari rumah tetangganya. Truz, dia bilang sama bapaknya, pokoknya jelasin bla, bla, bla gitu. Bapaknya dik Slamet langsung welcome banget sama kita, ngijinin kita ngambil gambar rumahnya.
Setelah selesai ngambil gambar rumah dik Slamet kita terusin buat ngambil gambar dik Slamet pas lagi ngamen di jalanan dekat SMP N 12 Ska. Di situ kita ketemu sama kakaknya dik Slamet dan adiknya yang sama-sama berprofesi sebagai pengamen. Kita ambil sekalian gambar mereka saat ngamen, saat maen bareng. Aneh plus lucunya adalah bahwa orang-orang di situ sadar kamera…jadi kalau pas ada kamera mereka langsung dengan senang hati ngasih uang ke pengamen-pengamen cilik itu, tapi kalau gak ada kamera ya mereka cuek aja.
Selesai ngambil gambar kita duduk plus makan bareng sama dik Slamet, tapi dik Slametnya gak mau makan. Katanya di makan di rumah aja gitu. Yawda, kita anterin aja dik Slamet pulang. Setelah itu kita mampir dulu ke belakang Sriwedari beli buku-buku paket pelajaran. Habis itu kita cari masjid buat shalat dan buka bekal dari rumah…ehm..nikmat. Trus ngembaliin plus ngambil handycam di rumah pakde. After that kita cabut ke Sragen. Sekitar jam 14.30 WIB kita sudah sampai Sragen. Ehm..unforgettable experience.^_^
Hari Ketiga Produksi
Minggu, 26 Juli 2009
This my 3rd day…Rencana berangkat jam 05.30 gak taunya jam segitu malah baru bangun.Udah githu lupa lagi kalau harus nge-charge handycam. Padahal baaterai handycamnya benar-benaar udah habis. Akhirnya cuma di charge 1 jam, padahal mesti 5 jam!Tiba-tiba…Ting!!dapat ide buat nge-charge handycam di rumah pakde di Solo, sekalian pinjem handycam pakde.hhe. Jam 8 teng! Akhirnya berangkat juga ke Solo. Tak lupa mampir dulu donk ke rumah pakde. Setelah dapet pinjeman handycam kita langsung cabut ke lokasi produksi, jalan raya depan SMK N 6 Ska. Kita cari dulu nich ‘Dik Slamet’, tokoh utama film kita.hhe .
Gak taunya ternyata dik Slamet udah pulang…duch,kitanya malah kasian sama dik Slametnya. Pasti dia udah nunggu lama banget. Soalnya nich,kita sebenarnya janjian sama dik Slamet jam 06.30 pagi…eh gak taunya kita jam 9 baru sampai di lokasi syuting. Maafin kita ya,dik. And then we were going to dik Slamet’s home. Tenyata bener kalau dik Slamet udah pulang. Tapi di situ kita gak langsung ketemu sama dik Slamet, kita ketemu bapaknya dulu. Waduh..kita sempet bingung nich mau ngapain, soalnya kita takutnya kalau bapaknya gak respek sama kita, tapi malah ngusir kita. Karena gak berani masuk, kita nunggu di luar sampai dik Slamet pulang. Gak lama kemudian dik Slamet sampai rumah, habis main dari rumah tetangganya. Truz, dia bilang sama bapaknya, pokoknya jelasin bla, bla, bla gitu. Bapaknya dik Slamet langsung welcome banget sama kita, ngijinin kita ngambil gambar rumahnya.
Setelah selesai ngambil gambar rumah dik Slamet kita terusin buat ngambil gambar dik Slamet pas lagi ngamen di jalanan dekat SMP N 12 Ska. Di situ kita ketemu sama kakaknya dik Slamet dan adiknya yang sama-sama berprofesi sebagai pengamen. Kita ambil sekalian gambar mereka saat ngamen, saat maen bareng. Aneh plus lucunya adalah bahwa orang-orang di situ sadar kamera…jadi kalau pas ada kamera mereka langsung dengan senang hati ngasih uang ke pengamen-pengamen cilik itu, tapi kalau gak ada kamera ya mereka cuek aja.
Selesai ngambil gambar kita duduk plus makan bareng sama dik Slamet, tapi dik Slametnya gak mau makan. Katanya di makan di rumah aja gitu. Yawda, kita anterin aja dik Slamet pulang. Setelah itu kita mampir dulu ke belakang Sriwedari beli buku-buku paket pelajaran. Habis itu kita cari masjid buat shalat dan buka bekal dari rumah…ehm..nikmat. Trus ngembaliin plus ngambil handycam di rumah pakde. After that kita cabut ke Sragen. Sekitar jam 14.30 WIB kita sudah sampai Sragen. Ehm..unforgettable experience.^_^
Hari Pertama Produksi
Hari ini adalah hari pertama kita untuk ngambil gambar film dokumenter. Di sini kita mau ngangkat tema tentang anak-anak jalanan. Mungkin tema ini memang sudah umum untuk documentary film, tapi kita mau buat tampilan yang beda untuk film ini. Kita ngambil lokasi syutingnya di Solo, karena kalau mau ambil di Sragen gak mungkin. Di Sragen tidak akan pernah menemukan anak jalanan, karena sudah di tertibkan. Di Solo pun kita harus pintar-pintar memilih lokasi. Tidak semua perempatan Solo masih diperbolehkan anak-anak jalanan berkeliaran. Salah satu tempat strategis di Solo tempat berkumpulnya anak jalanan adalah jl. LU Adisucipto, Depan SMK N 6 Ska atau dekat dengan SMP N 12 Ska. Lokasi ini hanya berjarak 1 km dari Manahan.
Pertama kita gak tau kala tahu di situ banyak anak jalanannya. Pertama dari sragen kita berangkat lewat Mojosongo, lalu kita jalan terus sampai tanpa sengaja kita liat ada anak jalanan ngamen di depan SMP N 12 Ska. Kita langsung menepi dan parkir sepeda motor di sekitar lokasi tersebut. Pas kita mau mulai ngambil gambar, dari seberang jalan terlihat dua orang cowok yang asli wajahnya sangar banget ngliatin kita. Jelas aja kita syok. Kita takutnya kalau mereka ntar mau ngambil handycam kita dan sebangsanya gitu. Akhirnya kita cabut dech dari situ. Keliling kota Solo lagi buat cari lokasi syuting yang pas..hhe. Ufh..capek gak ketemu-ketemu anak jalanan kita maen aja ke Solo Grand Mall. Buat ngademin pikiran sama mikir mau kemana lagi cari anak jalanan. Di situ kita ngisi perut juga, maklum setelah hampir setengah hari kita keliling Solo, perut protes nich minta diisi.
Sekitar jam 13.00 WIB kita terusin pencarian, karena gak ketemu juga ma anak-anak jalanan, dan sempet kesasar sampai Sukaharjo, kita akhirnya pasrah aja balik ke dekat SMP N 12 Ska. Ternyata emang di daerah itu tempat pengamen yang belum tergusur. Pas di situ banyak banget anak jalanannya, bahkan lebih banyak daripada tadi pagi pas kita datang. Enaknya nich, dua cowok sangar yang tadi ngliatin kita terus udah gak ada. The first step kita coba lakukan pendekatan dulu sama mereka, tanya-tanya gitu dech. Dilanjutkan ngasih penjelasan apa alasan kita buat datang ke situ yaitu, making documentary film. Tapi adik-adik pengamennya gak mau, soalnya ada yang trauma sama kamera. Gara-gara ada wartawan dari sebuah media cetak ngambil gambar mereka tanpa sepengetahuan dan ijin mereka, tahu-tahu esoknya wajah mereka sudah terpampang di koran. Karena mereka gak mau, walaupun sudah dipaksa tapi tetep aja keukeuh gak mau ya udah mau di apain lagi. Tapi kita gak putus asa, kita minta sama mereka buat cariin narasumber buat film kita. Ouw ya...di situ mereka ngira kita anak kuliahan, untuk amannya sich kita iyakan saja. Soalnya anak-anak jalanan ini usianya hanya terpaut satu atau dua tahun lebih muda daripada kita.
Ehm..di penghujung peluh kita, akhirnya ada juga anak jalanan yang mau kita jadiin narasumber film kita. Namanya dik Slamet, dia baru berusia 12 tahun ibunya meninggal sejak dia kelas satu SD dan sejak itu pula dia putus sekolah. Sekarang dia hanya tinggal di kamar kontrakan sempit bersama dua adik dan satu kakaknya. Anaknya baik banget, ramah, polos, apa adanya. Pokoknya beda sama anak-anak jalanan lainnya. Selesai wawancara kita langsung balik ke Sragen, karena hari sudah menjelang sore.
Ufh....hari yang melelahkan tapi membuatku belajar banyak hal. Bahwa kehidupan anak jalanan itu ternyata keras. Mereka punya kehidupan yang unik untuk kita pelajari. Mereka pun sebenarnya baik jika kita juga baik dan bersahabat dengan mereka. Buktinya mereka berusaha melindungi kita dari para pengamen yang lebih tua dari mereka. Pas itu kita tanya pada mereka bahwa selain jalan depan SMK N 6 Ska anak-anak jalanan biasanya ngumpul dimana, mereka jawabnya di terminal tapi terus mereka bilang gini “gak usah ke sana, mbak. Di sana banyak pengamen-pengamen yang udah gede, nanti mbak malah di gangguin sama mereka.” Tuh kan, bisa bayangin gak betapa baiknya mereka. Itu artinya mereka perhatian sama kita. Coba kalau gak, mereka pasti cuek aja kita mau diapain sama pengamen-pengamen itu. Dan satu hal penting adalah jangan pernah meremehkan mereka, karena mereka juga manusia yang mempunyai derajat sama di mata Tuhan, selain itu mereka tetaplah manusia biasa yang punya mimpi serta harapan. Meskipun harus kandas di tengah jalan.
by : Virdita R.R.
Lencana Facebook
Connect with me
Labels
- artikelQ (2)
- Kajian Gender (1)
- Kajian Sosial (1)
- M (1)
- Making Documentary Film (2)
- my poetry (1)


