Malam itu hujan mengguyur
kota Yogyakarta dengan cukup deras. Jadwal kami untuk menuju Magelang tertunda
selama satu setengah jam lamanya. Kami cuma bisa menunggu menantikan hujan reda
di basecamp Palawa UAJY (Pecinta Alam Mahasiswa
Universitas Atma Jaya Yogyakarta), komunitas pecinta alam yang menemani
pendakian kami ke Gunung Merbabu.
Rasa was-was mulai merayap ketika pendaki pemula seperti kami akan menaklukan
gunung Merbabu. Jumlah pendaki pemula yang lebih banyak daripada jumlah anggota
Palawa sedikit membuat khawatir. Bayangan pendakian yang mengerikan membuat
kami sedikit waspada.
Hujan mulai berganti gerimis
ketika jam menujukkan angka setengah sebelas malam. Kami bersiap-siap berangkat
untuk membelah kota Yogya menuju Magelang. Pukul setengah satu malam kami
sampai di Basecamp pendakian Wekas. Basecamp terlihat sesak oleh orang-orang
yang tidur untuk satu tujuan yang sama keesokan harinya, pendakian ke puncak
Merbabu.
Keesokan harinya kami bangun
ketika matahari mulai berani menampakkan sinarnya. Kami berkemas dan sarapan di
basecamp untuk bersiap memulai pendakian. Pukul Sembilan pagi kami berjalan
menyusuri ladang penduduk, hutan pinus dan kemudian dua jam kemudian sampai di
pos 1. Pos 1 hanya berupa pohon besar yang mempunyai tanah cukup datar untuk
beristirahat. Kami istirahat sejenak di sana untuk melemaskan otot kaki yang
tegang karena perjalanan. Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan ke
pos dua yang ditempuh dengan dua jam perjalanan dari pos satu. Jalan mulai
menanjak dan semakin terjal. Sejauh mata memandang hanya ada tanjakan dan
pohon-pohon pinus yang harus kami lewati. Saat perjalanan telinga ini tidak
henti-hentinya disapa oleh ocehan burung-burung yang ada di hutan. Terkadang
suara monyet pun masih bisa terdengar. Udara segar, bau hutan pinus yang lembab
akibat hujan serta nyanyian alam lewat suara penghuni hutan seakan
menyemangati kami untuk berjalan.
Tiba-tiba mata kami melihat tanaman dengan bunga-bunga kecil menggantikan
deretan pohon pinus.
“Kalau sudah melewati banyak
bunga seperti ini artinya kita sudah mau sampai di pos dua”, begitu kata Mutan
salah satu anggota Palawa.
Kami semakin semangat
menyusuri jalan setapak ketika bunga-bunga kecil itu dengan rapinya tumbuh di
sisi jalan seolah mengucapkan selamat datang. Sedikit sibakan dan mata kami pun
sampai pada pemandangan sebuah tanah lapang yang mulai ramai dipenuhi
warna-warni tenda para pendaki. Cantik sekali. Hanya kata-kata itu yang keluar
saat melihat cantiknya warna-warni tenda pendaki berdiri dengan kontras warna
alam yang hijau. Puas mengagumi keindahan yang telah disajikan Tuhan di depan
kami, kami mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda. Selesai mendirikan
tenda, tim mulai bersiap untuk memasak perbekalan yang ada. Tidak terasa empat
jam perjalanan membuat perut keroncongan meminta diisi.
Nikmat sekali. Meski kami
makan seadanya, tapi makan siang kali ini terasa sangat istimewa. Menyantap
makan siang ditemani segarnya udara di lereng Merbabu dan kicauan suara burung
merupakan hal yang sangat jarang kami alami. Kami pun melepas lelah dengan
tidur di tenda agar besok bisa mempersiapkan diri untuk summit attack ke puncak Merbabu jam tiga pagi.
Rencana untuk summit attack gagal. Anak-anak Palawa
yang mendampingi pendakian kami masih tidur ketika kami sudah merasa siap untuk
melakukan summit attack. Akhirnya
kami melakukan pendakian ke puncak pukul tujuh pagi setelah perut diganjal mie
rebus dicampur telur.
Senang rasanya ketika kami
akhirnya benar-benar mendaki menuju puncak Merbabu. Pendakian kali ini ternyata
lebih berat daripada pendakian sebelumnya. Kami tidak hanya harus melewati
tanjakan yang terjal tapi juga harus melewati tanjakan yang pijakannya adalah
bebatuan. Keyakinan untuk dapat mencapai puncak menjadi modal utama untuk terus
berjalan. Pendakian menjadi menyenangkan ketika bunga edelweiss mulai terlihat
di sekitar hutan vegetasi.
Dua jam kemudian kami sampai
di sebuah pos Helipad atau sering disebut sebagai puncak bayangan. Pemandangan
di sini sangat menakjubkan. Awan terlihat begitu dekat dengan garis-garisnya
begitu terlihat. Angin mulai bertiup menebarkan hawa dingin yang terasa segar.
Mata dimanjakan dengan pemandangan gunung Sumbing, Sindoro dan Merapi yang
membentang membentuk gugusan begitu cantik memamerkan pesonanya. Di kejauhan
juga terlihat puncak Merbabu yang seakan memanggil kami untuk datang lewat
hembusan udara yang menerpa wajah. Para pendaki yang berjalan menuju puncak
Merbabu terlihat seperti titik-titik warna-warni yang menanti untuk menaklukan
puncak gunung ini.
Setelah beristirahat
sejenak, kami melanjutkan perjalanan melewati bebatuan yang menanjak. Di
tanjakan bebatuan ini tercium bau belerang yang menyengat.
“Ini bekas kawah gunung
Merbabu. Namanya kawah Candradimuka” , kata seorang anggota Palawa yang
mendampingi kami.
Selesai melewati tanjakan dari bebatuan,
kami disuguhkan pemandangan yang sungguh cantik. Di sepanjang perjalanan
terlihat bunga edelweiss seolah tersenyum kepada kami. Kemudian kami melewati
jalanan datar yang hanya dikelilingi rerumputan. Tanjakan terjal pun tak jarang
masih harus kami lewati. Kami juga harus melewati jalan setapak di pinggir
gunung dengan lebar hanya satu meter. Ya, kami harus mengitari gunung.
Pendakian masih terus berlanjut ketika kami harus melewati jembatan setan.
Jembatan setan berupa tanjakan terjal berada di sisi jurang yang curam. Di
perjalanan kami bertemu dengan bapak yang sudah cukup berumur.
“Nanti kalau sudah melewati
jembatan setan jalannya mulai enak,mbak”, tutur sang bapak.
Perkataan bapak tadi cukup
membuat semangat kami terpacu. Nampaknya perkataan memang tak seindah
kenyataannya. Setelah melewati jembatan setan awalnya pendakian terasa mudah.
Kemudian pendakian mulai membuat putus asa ketika kami harus climbing tanpa alat pengaman apa pun.
Untungnya ini adalah tantangan terakhir sebelum menuju puncak. Selesai melewati
trek climbing, kami disuguhi puncak
Kentheng Songo. Kentheng Songo serasa menjadi milik kami secara eksklusif
karena hanya ada kami, rombongan pendaki yang disambut oleh puncak tertinggi
Gunung Merbabu tersebut. Sayangnya, hujan dan kabut menyapa kami ketika sampai
di puncak Merbabu. Cuaca memang tidak mendukung di kala siang itu. Tapi kami
puas akhirnya bisa memenuhi panggilan puncak Gunung Merbabu.
Teks dan Foto: @Virdita





