Mengapa kita tidak pernah mau mencoba untuk berbuat baik? Apakah karena kita sudah terlalu egois untuk sakedar melihat dan merasakan penderitaan orang-orang disekitar kita. Orang-orang yang tidak seberuntung kita, yang bahkan kita tidak pernah tahu dan tidak pernah melihat bahwa mereka ada. Pada abad ke-21 manusia hidup di era global, era yang sama sekali tidak menghargai adanya waktu, membuat waktu sama sekali tak berharga. Waktu adalah uang, dan uang adalah segalanya. Di era ini pula manusia telah beralih keyakinan, mereka tidak lagi menyembah ‘Tuhan’, Zat yang membuat mereka ada dan bisa menciptakan uang, tetapi mereka telah menjadi hamba setia sebuah benda bernama ‘Uang’. Pola kehidupan inilah yang membuat manusia hanya memikirkan diri sendiri dan bersifat individualis, membuat mereka menjadi kehilangan nurani mereka sebagai manusia. Lebih menonjolkan keegoisan dan menanggalkan sisi humanis mereka. Dengan begitu yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin, tenggelam, dan akhirnya mati di telan arus kehidupan yang sama sekali tidak berpihak terhadap mereka. Pola ini mirip ketika manusia masih berada di zaman kehidupan purba, dimana hanya berlaku adanya hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang, hanya sekarang sedikit ada perbedaan kata, ‘Siapa yang punya uang, dia yang akan menang’.
Sayangnya pola kehidupan ini telah diturunkan kepada generasi muda, bahkan anak-anak sekalipun. Penurunan terjadi melalui media cetak, maupun audio visual. Sehingga banyak kita temukan remaja-remaja yang bersifat ‘Selfish’. Sifat ini akan terbawa sampai mereka dewasa, bahkan mungkin sampai mereka kelak menjadi seorang pejabat maupun seorang petinggi. Dan inilah penyebab utama banyak pegawai-pegawai, karyawan, dan buruh melakukan aksi unjuk masa. Karena para atasan tersebut hanya akan memikirkan laba yang masuk ke perusahaan tanpa memikirkan kesejahteraan karyawan maupun buruh di perusahaan yang mereka bawahi. Ironis memang jika hal ini terus terjadi secara berkelanjutan. Negeri ini lama-kelamaan akan hancur jika para pemimpin dan petingginya menderita ‘Selfish’.
Sebenarnya kita dapat mencegah hal di atas agar tidak terjadi. Mulai sekarang kita bisa mendidik para remaja untuk sedikit peduli dengan hal-hal disekitar mereka. Bisa kita mulai hanya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, misalnya peduli Global Warming. Kita bisa memulainya dengan membuang sampah pada tempatnya. Mungkin hal itu sepele dan terlihat mudah, tapi perlu kedisplinan dan kesadaran yang tinggi akan betapa besarnya manfaat membuang sampah pada tempatnya itu. Karena kedisiplinan kita untuk membuang sampah pada tempatnya, orang-orang yang kebetulan melihat kita yang lebih memilih untuk menyimpan sampah kita di dalam kantong baju kita dan baru akan membuangnya ke tempat sampah yang kita temukan mungkin akan merasa heran melihat kelakuan kita. Dari rasa heran itu, akan muncul rasa penasaran dan akan membuatnya bertanya pada kita kenapa kita melakukan hal itu. Dari situlah kita akan menjelaskan tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita akan sedikit mengurangi dampak pemanasan global, sehingga laju pemanasan global dapat berjalan sedikit melambat. Hal itu membuat anak cucu kita setidaknya masih dapat menikmati bumi kita yang indah dan menghirup udara segar bumi kita. Ingat, kita harus peduli itu, dan tidak boleh bersikap egois, karena bumi ini adalah amanat dari anak cucu kita.
Hanya dengan perbuatan sepele kita dapat menghasilkan kebaikan yang tak terkira besarnya bagi seluruh makhluk di bumi ini. Kita dapat memperlambat laju global warming yang takkan pernah terbeli dengan uang seluruh umat di bumi bahkan ketika seluruh uang tersebut dikumpulkan menjadi satu tetap takkan mampu kita membeli apa yang telah kita buang dari bumi ini. Seperti kata sebuah pepatah ‘Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah diambil, sungai terakhir telah kering dan tanah terakhir telah tandus, kita baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan’. Bukankah telah jelas apa yang akan terjadi kelak jika kita, sebagai manusia tetap bersikap egois dan hanya memburu uang semata. Jika hal itu terjadi, akankah kita tetap bersikap egois? Tidak. Itukah jawabanmu, Teman? Jika ya, kenapa kita tidak menghilangkan keegoisan kita sedari sekarang? Mencoba mengikis keegoisan itu sedikit demi sedikit sebelum kita benar-benar mengalami hal seperti yang tertulis dalam pepatah tersebut. Bersama dengan saling bergenggaman tangan kita akan wujudkan bumi kita menjadi tempat berpijak yang nyaman bagi siapapun, dengan berjuta kebaikan dan tanpa keegoisan. Mari kawan, kita sayangi sesama, semua makhluk dengan rasa kepedulian kita terhadap nasib saudara kita. Save our planet.
Sragen, 19 Oktober 2009
By : Virdita R. R.


