YOGYAKARTA- Peneliti PSKK (Pusat Studi Kependudukan
dan Kebijakan) UGM, Basilica Dyah menampilkan sebuah gambar bangunan ketika
menjadi pembicara di acara diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Studi
Komunikasi FISIP UAJY (26/ 11/ 2012). Gambar konstruksi bangunan tersebut
dianalogikan sebagai sebuah kontruksi gender yang ada di masyarakat.
“Dalam sebuah bangunan ada beberapa orang yang membuat
bangunan tersebut menjadi ada (berdiri), yaitu, kontraktor, pemilik bangunan
/
modal, dan tukang bangunan.
Dalam kontruksi gender juga ada orang-orang yang berkepentingan, terutama para
pendukung patriarki”, ungkap beliau.
Lebih jauh Basilica Dyah membahas mengenai komponen
apa saja yang ada dalam kontruksi gender yaitu adanya perbedaan kepentingan,
relasi kekuasaan, serta pelaku vs korban. Dijelaskan pula bahwa dalam kontruksi
gender yang paling berperan tentu saja budaya patriarki di
mana dalam budaya tersebut
perempuan menjadi korban. Selain itu Basilica Dyah juga menyebutkan akibat dari
kontruksi gender terkait dengan kasus korupsi yang menimpa Angelina Sondakh.
“Publik bukan ranah perempuan, ketika perempuan masuk
ke ranah publik
dan sukses, kemudian jatuh maka media akan mencari-cari kesalahannya”, jelas
Basilica Dyah.
Diskusi dengan tema “Saat Media Berbicara tentang
Perempuan” tersebut membahas tentang penempatan perempuan sebagai “korban” di
media. Diskusi yang berlangsung selama dua jam di ruang 4311, kampus FISIP UAJY
turut menghadirkan Hendrawan Setiawan, Chief of Operation PECOJON (Peace and
Conflict Journalism Network) sekaligus wartawan TV One untuk kantor cabang di Yogyakarta.
Hendrawan Setiawan dalam diskusi tersebut lebih banyak
membahas tentang bagaimana media menempatkan perempuan sebagai objek dan
bagaimana media sering memberikan labelling
kepada pelaku. Peserta diskusi yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP
UAJY menanggapi acara ini dengan cukup antusias dengan melontarkan beberapa
pernyataan kepada pembicara. Salah satunya Elis. Mahasiswi Ilmu Komunikasi
FISIP UAJY tersebut menanyakan bagaimana cara seorang jurnalis perempuan dapat
bertahan di media “milik laki-laki”. Menanggapi hal tersebut, Basilica Dyah
menyarankan untuk belajar membuat berita dengan kesadaran perspektif gender.
Misalnya dengan tidak ikut-ikutan memberikan labelling
kepada perempuan yang menjadi subjek pemberitaan.
Diskusi dimoderatori oleh dosen Ilmu Komunikasi FISIP
UAJY, Th. Dyah Wulandari. Kesimpulan dari diskusi yang
selesai pukul 13.00 WIB ini adalah bahwa media saat ini masih belum ideal untuk perempuan.
Salah satunya yang berperan dalam mewujudkan media yang ideal untuk perempuan
adalah negara, agama serta pendidikan seks juga harus dimaknai dengan
benar.
Teks: @Virdita



0 komentar:
Posting Komentar