My Daily Life

Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking

BASILICA DYAH: KONTRUKSI GENDER ITU SEPERTI KONTRUKSI BANGUNAN

Kamis, 02 April 2015


YOGYAKARTA- Peneliti PSKK (Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan) UGM, Basilica Dyah menampilkan sebuah gambar bangunan ketika menjadi pembicara di acara diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Studi Komunikasi FISIP UAJY (26/ 11/ 2012). Gambar konstruksi bangunan tersebut dianalogikan sebagai sebuah kontruksi gender yang ada di masyarakat.

“Dalam sebuah bangunan ada beberapa orang yang membuat bangunan tersebut menjadi ada (berdiri), yaitu, kontraktor, pemilik bangunan / modal, dan tukang bangunan. Dalam kontruksi gender juga ada orang-orang yang berkepentingan, terutama para pendukung patriarki”, ungkap beliau.

Lebih jauh Basilica Dyah membahas mengenai komponen apa saja yang ada dalam kontruksi gender yaitu adanya perbedaan kepentingan, relasi kekuasaan, serta pelaku vs korban. Dijelaskan pula bahwa dalam kontruksi gender yang paling berperan tentu saja budaya patriarki di mana dalam budaya tersebut perempuan menjadi korban. Selain itu Basilica Dyah juga menyebutkan akibat dari kontruksi gender terkait dengan kasus korupsi yang menimpa Angelina Sondakh.

“Publik bukan ranah perempuan, ketika perempuan masuk ke ranah publik dan sukses, kemudian jatuh maka media akan mencari-cari kesalahannya”, jelas Basilica Dyah.

Diskusi dengan tema “Saat Media Berbicara tentang Perempuan” tersebut membahas tentang penempatan perempuan sebagai “korban” di media. Diskusi yang berlangsung selama dua jam di ruang 4311, kampus FISIP UAJY turut menghadirkan Hendrawan Setiawan, Chief of Operation PECOJON (Peace and Conflict Journalism Network) sekaligus wartawan TV One untuk kantor cabang di Yogyakarta.

Hendrawan Setiawan dalam diskusi tersebut lebih banyak membahas tentang bagaimana media menempatkan perempuan sebagai objek dan bagaimana media sering memberikan labelling kepada pelaku. Peserta diskusi yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UAJY menanggapi acara ini dengan cukup antusias dengan melontarkan beberapa pernyataan kepada pembicara. Salah satunya Elis. Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY tersebut menanyakan bagaimana cara seorang jurnalis perempuan dapat bertahan di media “milik laki-laki”. Menanggapi hal tersebut, Basilica Dyah menyarankan untuk belajar membuat berita dengan kesadaran perspektif gender. Misalnya dengan tidak ikut-ikutan memberikan labelling kepada perempuan yang menjadi subjek pemberitaan. 

Diskusi dimoderatori oleh dosen Ilmu Komunikasi FISIP UAJY, Th. Dyah Wulandari. Kesimpulan dari diskusi yang selesai pukul 13.00 WIB ini adalah bahwa media saat ini masih belum ideal untuk perempuan. Salah satunya yang berperan dalam mewujudkan media yang ideal untuk perempuan adalah negara, agama serta pendidikan seks juga harus dimaknai dengan benar.  

Teks: @Virdita

0 komentar:

Posting Komentar