My Daily Life

Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking

HABIBIE & AINUN OASE DI TENGAH GURUN PERCERAIAN

Kamis, 02 April 2015


Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya
Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, Engkau titipi kami bibit cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat pada diri Ainun dan saya
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta kami ini dengan kasih sayang nilai iman, takwa dan budaya kami tiap saat sepanjang masa
Terima kasih Allah, Engkau telah menikahkan Ainun dan saya sebagai suami istri tak terpisahkan di mana pun kami berada sepanjang masa

Kata-kata di atas adalah penggalan puisi yang dibuat Habibie untuk Ainun. Film Habibie dan Ainun merupakan film bergenre romantis berdasarkan kisah cinta nyata Pak Habibie dan Bu Ainun. Kisah cinta mereka dipisahkan oleh maut ketika Ainun meninggal pada 22 Mei 2010. Habibie kemudian menuliskan kisah mereka dalam sebuah novel berjudul, “Habibie & Ainun”.  

Film maupun novelnya menceritakan bagaimana Habibie dan Ainun bertemu sampai akhirnya menikah. Film ini memperlihatkan kesehajaan dan kesetiaan mereka ketika menjalani rumah tangga. Di mulai ketika Ainun rela meninggalkan Indonesia dan tinggal di Jerman bersama Habibie padahal dia merindukan Indonesia. Ada juga kisah ketika Ainun akhirnya tahu bahwa dia sakit tapi merahasiakannya karena berpikir Habibie jauh lebih membutuhkannya dibanding dirinya sendiri. Hal tersebut terjadi pada saat Habibie berada di puncak karirnya menjadi Presiden RI ke-3. Kesetiaan Habibie pun juga diuji saat ia digoda perempuan tetapi ia sama sekali tak bergeming.

Kesetiaan, saling pengertian, kerelaan berkorban, sikap mau “nrimo” dan kuatnya komitmen mereka terhadap pernikahan  membuat pasangan ini akhirnya bertahan sampai akhir. Di tengah maraknya kasus perceraian yang terjadi di Indonesia, kelanggengan yang terjadi di film ini bagaikan oase di padang gurun. Menikah merupakan sebuah pilihan yang membutuhkan komitmen. Ketika pasangan memutuskan untuk menikah idealnya mereka telah berkomitmen untuk menyingkirkan keegoisan dan kepentingan masing-masing untuk keluarga. Kasus perceraian yang selalu meningkat setiap tahunnya rata-rata di sebabkan oleh tidak siapnya pasangan akan komitmen mereka terhadap pernikahan. Faktor ekonomi dan perselingkuhan merupakan alasan yang paling banyak muncul di setiap kasus perceraian. 

Mungkin melalui film ini, kita dapat berkaca bahwa dalam mempertahankan sebuah komitmen itu memang sulit. Tapi semuanya dapat dilalui dengan kesetiaan dan pengorbanan sekaligus cinta antara pasangan. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja melainkan harus adanya saling memberi dan menerima dari kedua belah pihak. Kita tahu bagaimana pengorbanan Ainun terhadap Habibie, di sisi lain kita juga melihat bagaimana kesetiaan Habibie dalam menjaga komitmen. Masing-masing tidak menuntut sesuatu yang memberatkan pasangannya. Sikap saling “nrimo” juga berperan dalam hal ini serta kesehajaan yang besar sebelum Habibie mencapai kesuksesan. Ingat, bahwa mereka juga mengalami masa sulit sampai Habibie rela kakinya terluka karena berjalan kaki berkilo-kilo meter. Mungkin hal-hal tersebut mulai banyak menghilang di pasangan-pasangan yang akhirnya memilih untuk bercerai.

Teks: @Virdita, Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/File:230px-Habibie_Ainun_Poster.jpg

0 komentar:

Posting Komentar