Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk
Ainun dan Ainun untuk saya
Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962,
Engkau titipi kami bibit cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat
pada diri Ainun dan saya
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami
menyiram bibit cinta kami ini dengan kasih sayang nilai iman, takwa dan budaya
kami tiap saat sepanjang masa
Terima kasih Allah, Engkau telah menikahkan Ainun dan
saya sebagai suami istri tak terpisahkan di mana pun kami berada sepanjang masa
Kata-kata di atas adalah
penggalan puisi yang dibuat Habibie untuk Ainun. Film Habibie dan Ainun merupakan
film bergenre romantis berdasarkan kisah cinta nyata Pak Habibie dan Bu Ainun. Kisah
cinta mereka dipisahkan oleh maut ketika Ainun meninggal pada 22 Mei 2010.
Habibie kemudian menuliskan kisah mereka dalam sebuah novel berjudul, “Habibie
& Ainun”.
Film maupun novelnya
menceritakan bagaimana Habibie dan Ainun bertemu sampai akhirnya menikah. Film
ini memperlihatkan kesehajaan dan kesetiaan mereka ketika menjalani rumah
tangga. Di mulai ketika Ainun rela meninggalkan Indonesia dan tinggal di Jerman
bersama Habibie padahal dia merindukan Indonesia. Ada juga kisah ketika Ainun
akhirnya tahu bahwa dia sakit tapi merahasiakannya karena berpikir Habibie jauh
lebih membutuhkannya dibanding dirinya sendiri. Hal tersebut
terjadi pada saat
Habibie berada di puncak karirnya menjadi Presiden RI ke-3. Kesetiaan Habibie pun
juga diuji saat ia digoda perempuan tetapi ia sama sekali tak bergeming.
Kesetiaan, saling
pengertian, kerelaan berkorban, sikap mau “nrimo” dan kuatnya komitmen mereka
terhadap pernikahan membuat pasangan ini
akhirnya bertahan sampai akhir. Di tengah maraknya kasus perceraian yang terjadi
di Indonesia, kelanggengan yang terjadi di film ini bagaikan oase di padang
gurun. Menikah merupakan sebuah pilihan yang membutuhkan komitmen. Ketika
pasangan memutuskan untuk menikah idealnya mereka telah berkomitmen untuk
menyingkirkan keegoisan dan kepentingan masing-masing untuk keluarga. Kasus
perceraian yang selalu meningkat setiap tahunnya rata-rata di sebabkan oleh
tidak siapnya pasangan akan komitmen mereka terhadap pernikahan. Faktor
ekonomi dan perselingkuhan merupakan alasan yang paling banyak muncul di setiap
kasus perceraian.
Mungkin melalui film ini,
kita dapat berkaca bahwa dalam mempertahankan sebuah komitmen itu memang sulit.
Tapi semuanya dapat dilalui dengan kesetiaan dan pengorbanan sekaligus cinta
antara pasangan. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja melainkan harus adanya
saling memberi dan menerima dari kedua belah pihak. Kita tahu bagaimana
pengorbanan Ainun terhadap Habibie, di sisi lain kita juga melihat bagaimana
kesetiaan Habibie dalam menjaga komitmen. Masing-masing tidak menuntut sesuatu
yang memberatkan pasangannya. Sikap saling “nrimo” juga berperan dalam hal ini serta
kesehajaan yang besar sebelum Habibie mencapai kesuksesan. Ingat, bahwa mereka
juga mengalami masa sulit sampai Habibie rela kakinya terluka karena berjalan
kaki berkilo-kilo meter. Mungkin hal-hal tersebut mulai banyak menghilang di
pasangan-pasangan yang akhirnya memilih untuk bercerai.
Teks: @Virdita, Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/File:230px-Habibie_Ainun_Poster.jpg




0 komentar:
Posting Komentar