My Daily Life

Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking

SETITIK HUJAN DI PUNCAK MERBABU

Kamis, 02 April 2015


Malam itu hujan mengguyur kota Yogyakarta dengan cukup deras. Jadwal kami untuk menuju Magelang tertunda selama satu setengah jam lamanya. Kami cuma bisa menunggu menantikan hujan reda di basecamp Palawa UAJY (Pecinta Alam Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta), komunitas pecinta alam yang menemani pendakian kami ke Gunung Merbabu. Rasa was-was mulai merayap ketika pendaki pemula seperti kami akan menaklukan gunung Merbabu. Jumlah pendaki pemula yang lebih banyak daripada jumlah anggota Palawa sedikit membuat khawatir. Bayangan pendakian yang mengerikan membuat kami sedikit waspada. 
Hujan mulai berganti gerimis ketika jam menujukkan angka setengah sebelas malam. Kami bersiap-siap berangkat untuk membelah kota Yogya menuju Magelang. Pukul setengah satu malam kami sampai di Basecamp pendakian Wekas. Basecamp terlihat sesak oleh orang-orang yang tidur untuk satu tujuan yang sama keesokan harinya, pendakian ke puncak Merbabu. 
Keesokan harinya kami bangun ketika matahari mulai berani menampakkan sinarnya. Kami berkemas dan sarapan di basecamp untuk bersiap memulai pendakian. Pukul Sembilan pagi kami berjalan menyusuri ladang penduduk, hutan pinus dan kemudian dua jam kemudian sampai di pos 1. Pos 1 hanya berupa pohon besar yang mempunyai tanah cukup datar untuk beristirahat. Kami istirahat sejenak di sana untuk melemaskan otot kaki yang tegang karena perjalanan. Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan ke pos dua yang ditempuh dengan dua jam perjalanan dari pos satu. Jalan mulai menanjak dan semakin terjal. Sejauh mata memandang hanya ada tanjakan dan pohon-pohon pinus yang harus kami lewati. Saat perjalanan telinga ini tidak henti-hentinya disapa oleh ocehan burung-burung yang ada di hutan. Terkadang suara monyet pun masih bisa terdengar. Udara segar, bau hutan pinus yang lembab akibat hujan serta nyanyian alam lewat suara penghuni hutan seakan menyemangati  kami untuk berjalan. Tiba-tiba mata kami melihat tanaman dengan bunga-bunga kecil menggantikan deretan pohon pinus.
“Kalau sudah melewati banyak bunga seperti ini artinya kita sudah mau sampai di pos dua”, begitu kata Mutan salah satu anggota Palawa.
Kami semakin semangat menyusuri jalan setapak ketika bunga-bunga kecil itu dengan rapinya tumbuh di sisi jalan seolah mengucapkan selamat datang. Sedikit sibakan dan mata kami pun sampai pada pemandangan sebuah tanah lapang yang mulai ramai dipenuhi warna-warni tenda para pendaki. Cantik sekali. Hanya kata-kata itu yang keluar saat melihat cantiknya warna-warni tenda pendaki berdiri dengan kontras warna alam yang hijau. Puas mengagumi keindahan yang telah disajikan Tuhan di depan kami, kami mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda. Selesai mendirikan tenda, tim mulai bersiap untuk memasak perbekalan yang ada. Tidak terasa empat jam perjalanan membuat perut keroncongan meminta diisi.
Nikmat sekali. Meski kami makan seadanya, tapi makan siang kali ini terasa sangat istimewa. Menyantap makan siang ditemani segarnya udara di lereng Merbabu dan kicauan suara burung merupakan hal yang sangat jarang kami alami. Kami pun melepas lelah dengan tidur di tenda agar besok bisa mempersiapkan diri untuk summit attack ke puncak Merbabu jam tiga pagi.

Rencana untuk summit attack gagal. Anak-anak Palawa yang mendampingi pendakian kami masih tidur ketika kami sudah merasa siap untuk melakukan summit attack. Akhirnya kami melakukan pendakian ke puncak pukul tujuh pagi setelah perut diganjal mie rebus dicampur telur.
Senang rasanya ketika kami akhirnya benar-benar mendaki menuju puncak Merbabu. Pendakian kali ini ternyata lebih berat daripada pendakian sebelumnya. Kami tidak hanya harus melewati tanjakan yang terjal tapi juga harus melewati tanjakan yang pijakannya adalah bebatuan. Keyakinan untuk dapat mencapai puncak menjadi modal utama untuk terus berjalan. Pendakian menjadi menyenangkan ketika bunga edelweiss mulai terlihat di sekitar hutan vegetasi. 

Dua jam kemudian kami sampai di sebuah pos Helipad atau sering disebut sebagai puncak bayangan. Pemandangan di sini sangat menakjubkan. Awan terlihat begitu dekat dengan garis-garisnya begitu terlihat. Angin mulai bertiup menebarkan hawa dingin yang terasa segar. Mata dimanjakan dengan pemandangan gunung Sumbing, Sindoro dan Merapi yang membentang membentuk gugusan begitu cantik memamerkan pesonanya. Di kejauhan juga terlihat puncak Merbabu yang seakan memanggil kami untuk datang lewat hembusan udara yang menerpa wajah. Para pendaki yang berjalan menuju puncak Merbabu terlihat seperti titik-titik warna-warni yang menanti untuk menaklukan puncak gunung ini. 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan melewati bebatuan yang menanjak. Di tanjakan bebatuan ini tercium bau belerang yang menyengat.
“Ini bekas kawah gunung Merbabu. Namanya kawah Candradimuka” , kata seorang anggota Palawa yang mendampingi kami.

    Selesai melewati tanjakan dari bebatuan, kami disuguhkan pemandangan yang sungguh cantik. Di sepanjang perjalanan terlihat bunga edelweiss seolah tersenyum kepada kami. Kemudian kami melewati jalanan datar yang hanya dikelilingi rerumputan. Tanjakan terjal pun tak jarang masih harus kami lewati. Kami juga harus melewati jalan setapak di pinggir gunung dengan lebar hanya satu meter. Ya, kami harus mengitari gunung. Pendakian masih terus berlanjut ketika kami harus melewati jembatan setan. Jembatan setan berupa tanjakan terjal berada di sisi jurang yang curam. Di perjalanan kami bertemu dengan bapak yang sudah cukup berumur.

“Nanti kalau sudah melewati jembatan setan jalannya mulai enak,mbak”, tutur sang bapak.
Perkataan bapak tadi cukup membuat semangat kami terpacu. Nampaknya perkataan memang tak seindah kenyataannya. Setelah melewati jembatan setan awalnya pendakian terasa mudah. Kemudian pendakian mulai membuat putus asa ketika kami harus climbing tanpa alat pengaman apa pun. Untungnya ini adalah tantangan terakhir sebelum menuju puncak. Selesai melewati trek climbing, kami disuguhi puncak Kentheng Songo. Kentheng Songo serasa menjadi milik kami secara eksklusif karena hanya ada kami, rombongan pendaki yang disambut oleh puncak tertinggi Gunung Merbabu tersebut. Sayangnya, hujan dan kabut menyapa kami ketika sampai di puncak Merbabu. Cuaca memang tidak mendukung di kala siang itu. Tapi kami puas akhirnya bisa memenuhi panggilan puncak Gunung Merbabu. 

Teks dan Foto: @Virdita

SULISTYO: KENAIKAN PENGUNJUNG KETIKA LIBURAN DI EROPA DAN JEPANG



Yogyakarta-Kenaikan pengunjung Galeri wayang yang ada di museum Sasono Budoyo Yogyakarta justru terjadi ketika musim liburan di Eropa dan Jepang. Hal ini karena mayoritas pengunjung justru berasal dari kedua wilayah tersebut. 

“Biasanya ramai dikunjungi turis Eropa ketika bulan Juni, Juli, Agustus. Tapi kalau turis dari Jepang menjelang Desember-Januari”, tutur Sulistyo, pemilik Galeri wayang di Sasono Budoyo ketika di wawancarai pada Selasa, 18 Desember 2012.

Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat penjualan wayang di galeri milik Sulistyo. Galeri tersebut menampilkan serta menjual wayang dalam berbagai ukuran. Ukuran yang paling kecil dibanderol seharga Rp 200.000,00 sedangkan yang paling besar bisa mencapai Rp 3.000.000,00.

“Turis asing biasanya lebih tertarik untuk membeli yang kecil karena muat masuk ke dalam tas mereka. Tapi ada pula yang beli ukuran besar dan minta dipaketkan”, kata Wahyudi, penjaga dan pembuat wayang di Galeri tersebut.

Pembuatan wayang bisa memakan waktu yang cukup lama tergantung besarnya dan kerumitan setiap detail. Wayang-wayang yang terdapat di museum ini dibanderol cukup mahal karena menggunakan  kulit kerbau sebagai bahan wayang dan mineral untuk pewarnanya.

“Mineralnya kami ambil langsung dari desa-desa yang ada di wilayah Yogyakarta. Kami menggunakan pewarna yang diolah secara tradisional”, jelas Wahyudi.

Sedangkan wisatawan Indonesia justru tidak terlalu tertarik untuk berkunjung ke galeri wayang tersebut. Ketika ada acara Sekaten di alun-alun utara tidak membuat terjadinya peningkatan jumlah turis lokal. Padahal jarak antara alun-alun utara dengan musem Sasono Budoyo sangat dekat.

“Sekaten tidak mempengaruhi peningkatan pengunjung wisatawan lokal ke sini. Mayoritas pengunjung tetap wisatawan mancanegara”, ungkap Sulistyo

Teks dan Foto: @Virdita


DUA SISI MATA UANG OUTSOURCING


Penggunaan tenaga kerja menggunakan sistem outsourcing juga diterapkan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Universitas sebagai lembaga pendidikan menerapkan sistem ini karena dinilai  merupakan sebuah keuntungan. Tapi bagi pekerja, sistem outsourcing memberikan ketidakpastian tentang masa kerja dan sistem kerja mereka.

            “Sistem outsourcing memberikan penghematan kepada instansi, tapi di sisi lain sistem ini membuat kami menjadi pegawai tidak tetap meskipun kami sudah puluhan tahun bekerja di sini. Padahal sebagai pekerja, kami ingin diangkat menjadi pegawai tetap karena ada perbedaan gaji yang cukup signifikan antara pegawai tetap dengan pegawai outsourcing”, Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Harjono yang menjabat sebagai Supervisor CS (Cleaning Service) di Kampus IV FISIP UAJY. 

            Sebagai tenaga CS di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Bapak Harjono dan tiga puluh karyawan lainnya mengalami ketidakpastian masa kerja dalam sistem kerja mereka. Tenaga CS di kampus 4 FISIP UAJY bekerja di bawah CV. Caritas Jaya. CV. Caritas Jaya dibentuk setelah adanya sistem tender. Sebelum terbentuk CV. Caritas Jaya, tenaga CS bekerja outsourcing di bawah Koperasi Caritas yang merupakan koperasi milik karyawan dan dosen UAJY.

            Sistem outsourcing merupakan sistem di mana ada tiga pihak utama yang terlibat di dalamnya yaitu pihak pemberi kerja, pihak penerima kerja, dan pihak outsourcing. Pihak pemberi kerja dalam hal ini adalah Universitas Atma Jaya Yogyakarta, pihak penerima kerja yaitu Koperasi Caritas dan pihak outsourcing-nya tenaga CS. Sistem ini menguntungkan UAJY sebagai instansi karena kinerja tenaga CS akan meningkat dengan adanya outsourcing lewat tender. Penerapan sistem tender membuat terbentuknya CV. Caritas Jaya. Agar dapat memenangkan tender, CV. Caritas Jaya harus bekerja secara maksimal karena adanya standar nilai evaluasi bagi mereka yang harus dipenuhi salah satunya kebersihan. 
   
            Adanya standar nilai evaluasi yang tinggi membuat CV. Caritas Jaya bekerja maksimal agar dapat mempertahankan tender mengingat tender dilaksanakan setiap satu tahun sekali.  Jika proses tender tidak berhasil maka seluruh karyawan CV. Caritas Jaya akan dirumahkan. Outsourcing membuat tenaga CS tidak mempunyai kepastian tentang masa kerja mereka. Ketika mereka dapat memenangkan tender maka mereka akan bekerja di instansi tersebut tapi ketika mereka tidak dapat menang tender maka mereka harus berusaha semaksimal mungkin hanya dengan upah senilai UMR

Teks: @Virdita

BASILICA DYAH: KONTRUKSI GENDER ITU SEPERTI KONTRUKSI BANGUNAN



YOGYAKARTA- Peneliti PSKK (Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan) UGM, Basilica Dyah menampilkan sebuah gambar bangunan ketika menjadi pembicara di acara diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Studi Komunikasi FISIP UAJY (26/ 11/ 2012). Gambar konstruksi bangunan tersebut dianalogikan sebagai sebuah kontruksi gender yang ada di masyarakat.

“Dalam sebuah bangunan ada beberapa orang yang membuat bangunan tersebut menjadi ada (berdiri), yaitu, kontraktor, pemilik bangunan / modal, dan tukang bangunan. Dalam kontruksi gender juga ada orang-orang yang berkepentingan, terutama para pendukung patriarki”, ungkap beliau.

Lebih jauh Basilica Dyah membahas mengenai komponen apa saja yang ada dalam kontruksi gender yaitu adanya perbedaan kepentingan, relasi kekuasaan, serta pelaku vs korban. Dijelaskan pula bahwa dalam kontruksi gender yang paling berperan tentu saja budaya patriarki di mana dalam budaya tersebut perempuan menjadi korban. Selain itu Basilica Dyah juga menyebutkan akibat dari kontruksi gender terkait dengan kasus korupsi yang menimpa Angelina Sondakh.

“Publik bukan ranah perempuan, ketika perempuan masuk ke ranah publik dan sukses, kemudian jatuh maka media akan mencari-cari kesalahannya”, jelas Basilica Dyah.

Diskusi dengan tema “Saat Media Berbicara tentang Perempuan” tersebut membahas tentang penempatan perempuan sebagai “korban” di media. Diskusi yang berlangsung selama dua jam di ruang 4311, kampus FISIP UAJY turut menghadirkan Hendrawan Setiawan, Chief of Operation PECOJON (Peace and Conflict Journalism Network) sekaligus wartawan TV One untuk kantor cabang di Yogyakarta.

Hendrawan Setiawan dalam diskusi tersebut lebih banyak membahas tentang bagaimana media menempatkan perempuan sebagai objek dan bagaimana media sering memberikan labelling kepada pelaku. Peserta diskusi yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UAJY menanggapi acara ini dengan cukup antusias dengan melontarkan beberapa pernyataan kepada pembicara. Salah satunya Elis. Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY tersebut menanyakan bagaimana cara seorang jurnalis perempuan dapat bertahan di media “milik laki-laki”. Menanggapi hal tersebut, Basilica Dyah menyarankan untuk belajar membuat berita dengan kesadaran perspektif gender. Misalnya dengan tidak ikut-ikutan memberikan labelling kepada perempuan yang menjadi subjek pemberitaan. 

Diskusi dimoderatori oleh dosen Ilmu Komunikasi FISIP UAJY, Th. Dyah Wulandari. Kesimpulan dari diskusi yang selesai pukul 13.00 WIB ini adalah bahwa media saat ini masih belum ideal untuk perempuan. Salah satunya yang berperan dalam mewujudkan media yang ideal untuk perempuan adalah negara, agama serta pendidikan seks juga harus dimaknai dengan benar.  

Teks: @Virdita

HABIBIE & AINUN OASE DI TENGAH GURUN PERCERAIAN



Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya
Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, Engkau titipi kami bibit cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat pada diri Ainun dan saya
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta kami ini dengan kasih sayang nilai iman, takwa dan budaya kami tiap saat sepanjang masa
Terima kasih Allah, Engkau telah menikahkan Ainun dan saya sebagai suami istri tak terpisahkan di mana pun kami berada sepanjang masa

Kata-kata di atas adalah penggalan puisi yang dibuat Habibie untuk Ainun. Film Habibie dan Ainun merupakan film bergenre romantis berdasarkan kisah cinta nyata Pak Habibie dan Bu Ainun. Kisah cinta mereka dipisahkan oleh maut ketika Ainun meninggal pada 22 Mei 2010. Habibie kemudian menuliskan kisah mereka dalam sebuah novel berjudul, “Habibie & Ainun”.  

Film maupun novelnya menceritakan bagaimana Habibie dan Ainun bertemu sampai akhirnya menikah. Film ini memperlihatkan kesehajaan dan kesetiaan mereka ketika menjalani rumah tangga. Di mulai ketika Ainun rela meninggalkan Indonesia dan tinggal di Jerman bersama Habibie padahal dia merindukan Indonesia. Ada juga kisah ketika Ainun akhirnya tahu bahwa dia sakit tapi merahasiakannya karena berpikir Habibie jauh lebih membutuhkannya dibanding dirinya sendiri. Hal tersebut terjadi pada saat Habibie berada di puncak karirnya menjadi Presiden RI ke-3. Kesetiaan Habibie pun juga diuji saat ia digoda perempuan tetapi ia sama sekali tak bergeming.

Kesetiaan, saling pengertian, kerelaan berkorban, sikap mau “nrimo” dan kuatnya komitmen mereka terhadap pernikahan  membuat pasangan ini akhirnya bertahan sampai akhir. Di tengah maraknya kasus perceraian yang terjadi di Indonesia, kelanggengan yang terjadi di film ini bagaikan oase di padang gurun. Menikah merupakan sebuah pilihan yang membutuhkan komitmen. Ketika pasangan memutuskan untuk menikah idealnya mereka telah berkomitmen untuk menyingkirkan keegoisan dan kepentingan masing-masing untuk keluarga. Kasus perceraian yang selalu meningkat setiap tahunnya rata-rata di sebabkan oleh tidak siapnya pasangan akan komitmen mereka terhadap pernikahan. Faktor ekonomi dan perselingkuhan merupakan alasan yang paling banyak muncul di setiap kasus perceraian. 

Mungkin melalui film ini, kita dapat berkaca bahwa dalam mempertahankan sebuah komitmen itu memang sulit. Tapi semuanya dapat dilalui dengan kesetiaan dan pengorbanan sekaligus cinta antara pasangan. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja melainkan harus adanya saling memberi dan menerima dari kedua belah pihak. Kita tahu bagaimana pengorbanan Ainun terhadap Habibie, di sisi lain kita juga melihat bagaimana kesetiaan Habibie dalam menjaga komitmen. Masing-masing tidak menuntut sesuatu yang memberatkan pasangannya. Sikap saling “nrimo” juga berperan dalam hal ini serta kesehajaan yang besar sebelum Habibie mencapai kesuksesan. Ingat, bahwa mereka juga mengalami masa sulit sampai Habibie rela kakinya terluka karena berjalan kaki berkilo-kilo meter. Mungkin hal-hal tersebut mulai banyak menghilang di pasangan-pasangan yang akhirnya memilih untuk bercerai.

Teks: @Virdita, Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/File:230px-Habibie_Ainun_Poster.jpg