Aku tersadar setelah beberapa waktu lamanya pingsan karena jatuh ke dalam jurang. Kuremas kepalaku yang terasa pening, lalu menuju ke arah kening. Ada cairan bewarna merah pekat mengotori tanganku. Darah ? Ya, darah ! Setelah kusadari punggungku terasa nyeri, dan tulang rusukku serasa mau patah. Atau memang sudah patah?!
Kuputar ingatanku untuk memunculkan hal- hal yang aku alami sehingga terdampar di dasar jurang yang lumayan terjal dan dalam. Lalu, semuanya seperti berputar tanpa terkendali dalam otakku. Bermula saat aku dan teman-temanku pergi berlibur ke puncak untuk merayakan kelulusan kami dari bangku SMA. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan gerombolan anak-anak remaja badung yang menantang kami untuk adu balap. Tanpa pikir panjang, layaknya kebanyakan darah muda lainnya, kami menanggapi tantangan itu. Sayang, nasib naas menghampiriku. Mobil mercedes E 240 Avantgarde Afs seharga Rp 905.000.000,00 pemberian papa saat sweet seventeenku menabrak pembatas jalan dan akhirnya masuk ke jurang ini. Teman-temanku mungkin selamat dan sekarang entah ada dimana. Tinggal aku meratapi nasib bersama mobil naas ini.
Aku terlahir dari sebuah keluarga yang serba “wah”. Dari kecil sampai besar aku tak pernah merasakan apa yang namanya kekurangan. Secara materi memang, tapi secara batin jujur aku sangat merindukan kasih sayang kedua orang tuaku. Aku memang berasal dari keluarga yang broken home dan senantiasa kesepian. Aku seorang anak tunggal yang sangat dekat dengan Ummi. Ummilah yang sejak kecil membimbingku untuk selalu meraih yang terbaik. Ummi...sebenarnya dia hanyalah seorang wanita tua yang merana karena ditinggal mati anak satu-satunya. Sedangkan suaminya sendiri sudah meninggal tiga tahun setelah pernikahan mereka.
Masih terngiang di telingaku kata-kata Ummi saat menceritakan kisah pahit hidupnya kepadaku. Ketika itu, kami sedang tilawah Qur’an bersama-sama sesudah menunaikan shalat maghrib. Hal yang sekarang bahkan sudah aku tinggalkan sama sekali. Walaupun begitu, aku masih ingat wejangan terakhir Ummi saat terakhir kalinya kami mengaji bersama. Ketika itu usiaku memasuki usia remaja yaitu 13 tahun.
“ Sekarang kau sudah besar, nak. Banyak hal baru yang akan kau alami dan harus kau hadapi dengan semangat seorang lelaki. Satu lagi pesan Ummi yang harus selalu kau ingat, Ingatlah selalu akan Tuhan, akan Allah. Karena Dia akan selalu ada untuk-Mu.”
Tapi semuanya sekarang hilang. Masih terbayang dimataku ketika Ummi pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Ketika Ummi pergi, hati ini rasanya perih, bagai disayat-sayat pisau sembilu. Aku tak mau makan, tak mau minum, aku telah kehilangan semangat hidupku. Orang tuaku tidak peduli karena mereka sudah menemukan pengganti Ummi, namanya Romlah. Tapi tetap saja dia bukan Ummiku. Aku merasa marah dengan Tuhan! Dia telah mengambil orang yang paling aku sayangi selama ini.
Tuhan... ya, Tuhan ! Sesuatu yang selama ini tak pernah aku mengingatnya barang sedetik pun. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang menyelinap ke dalam bilik- bilik hatiku. Terngiang di kepalaku suara Ummi saat melantunkan surat Al-Kausar untuk mengingatkanku agar selalu bersyukur kepada Tuhan.
“Inna a’tainakal – kausar, Fa salli li rabbika wanhar, Inna syani’aka huwal- abtar. Artinya, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”
Tak terasa butir-butir bening meluncur dengan cepat melalui pipiku dan ada yang jatuh dimulutku. Ku coba mengecapnya, asin! Aku menangis! Setelah lima tahun lamanya kecuali saat kehilangan Ummi dan dia, aku baru merasakan kembali air mataku saat ini. Mungkin terlambat menyesalinya, tetapi sungguh aku ingin bertobat dan kembali ke jalan-Mu, Ya Rabb. Aku ingin memenuhi permintaan terakhir Ummi kepadaku. Sungguh dosa hati ini jika tidak dapat memenuhi pesan terakhir beliau sebelum meninggal.
Aku tiga tahun yang lalu, saat awal-awal menginjak bangku SMA, tepatnya SMA Nusa Bangsa. Namaku Steve Arfian. Teman-temanku biasa memanggilku Steve. Bisa dibilang aku sangat tampan. Aku mewarisi wajah ibuku yang Indo – Turki. Wajah tampan adalah modal utamaku untuk menjadi seorang casanova sejati, yang banyak di puja oleh gadis – gadis cantik di sekolahku. Puluhan gadis silih berganti mampir ke pelukanku, bukan hatiku. Kuakui saat pacaran dengan mereka tak ada satu pun yang kucintai. Kecuali...seorang gadis manis berelesung pipi dan berhidung mancung yang juga telah meninggalkanku selama-lamanya. Bukan meninggal, tapi pergi ke Inggris mengikuti ayahnya yang bekerja di sana.
Kenangan itu tak akan pernah bisa kulupakan. Saat-saat menangis dan tertawa bersama Via sungguh mengharukan. Aku sangat menyayanginya, perasaan yang sama seperti perasaanku kepada Ummi. Suatu perasaan yang tulus. Andai saja Ummi masih hidup, pasti senang rasanya memperkenalkan Via pada Ummi. Atau mungkin Ummi melihatku dari sisi-Nya. Semoga, Tuhan. Aku masih ingat kata-kata terakhir Via saat meninggalkanku.
“Steve, tunggulah aku disini. Aku akan selalu menyimpan namamu dalam hatiku, Steve. Aku akan kembali.”
Saat itu hatiku kembali luluh-lantak sama seperti ketika aku kehilangan Ummi. Kebrutalanku semakin menjadi-jadi. Aku tak terima diperlakukan seperti ini oleh Tuhan. Aku mulai menggugat-Nya. Aku menghirup ganja, mabuk-mabukkan, clubbing. Persetan dengan Tuhan! Toh, Dia tak pernah ada ketika aku membutuhkan. Hanya alkohol dan narkotikalah yang selalu menemani sepiku.
“Astaghfirullah Aladzim.” Tiba-tiba kalimat istighfar meluncur dari mulutku. Segera kutepis semua bayangan buruk kehidupanku yang kelam, kembali aku beristighfar mencoba bertobat dan memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosaku. Aku tahu mungkin sudah terlambat, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Steve! Kau dimana, nak?!” Sayup- sayup terdengar suara teriakan mama memanggilku. Lalu, menyusul suara-suara yang lain.
“Tante, mobil Steve menabrak pembatas jalan,dan...dia terjun ke jurang.” Kata seseorang, mungkin temanku. Setelah itu aku mendengar suara tangisan histeris. Aku yakin itu pasti suara tangisan mama. Ternyata ia masih menyayangiku. Ingin rasanya berteriak kepada mama mengabarkan keberadaanku. Sayangnya mulutku terlalu lemah untuk membuka lebih lebar.
“Itu Steve! Itu Steve! Dia ada di dalam jurang! Ya Tuhan! Selamatkanlah Steve.”
Sebelumnya aku masih bisa mendengar seseorang berteriak memberitahu keberadaanku. Aku mengenali suara itu, tidak salah lagi, papa. Setelah itu lambat laun aku mendengar suara derap langkah kaki orang- oarang menghampiriku, bersamaan dengan mengaburnya pandangan mataku. Akhirnya...gelap sama sekali. Entah mati, entah pingsan. Hanya satu harapanku jika Tuhan masih mengijinkanku hidup, aku ingin menjadi aku yang berbeda, aku yang lebih baik.
My world..i can tell to you about my experience..everything in my mind..
My Daily Life
Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking
Daily life
-
KSB June 2012
Pentas seni, budaya, makanan dari Indonesia Timur.
-
Night at Yogyakarta, December 2012
Liputan ujian akhir semester mata kuliah Penulisan Naskah Berita.
-
Merbabu 3142 mdpl
Pertama kali dan mungkin terakhir kalinya naik gunung. Unforgetabble moment.June 2013
-
Wediombo Beach July 2013
Susur pantai tapi gagal. Awalnya mencari Pok Tunggal tapi sampai ke Wediombo. The best moment was found the beautiful reef.
-
Indonesian Kitchen Throughout the Ages
Pameran kuliner, resep masak sejak jaman Hindia Belanda, alat masak tempo dulu. Demo masak poffertjes. Erasmus Huis. 24 August 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)
Lencana Facebook
Connect with me
Labels
- artikelQ (2)
- Kajian Gender (1)
- Kajian Sosial (1)
- M (1)
- Making Documentary Film (2)
- my poetry (1)


