My Daily Life

Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking

KETIKA UANG 500 RUPIAH PUN MENJADI BEGITU BERHARGA

Kamis, 15 November 2012
15 November 2012 Yeeee…akhirnya pulang…..!!!! Lega rasanya setelah semua urusan kampus selesai dan aku bisa pulang. Pulang dari rapat di kampus jam 5 sore, aku langsung berkemas dan pergi ke stasiun. Sampai di stasiun, tiba-tiba loket untuk kereta Prameks, Madiun Jaya dan bahkan sekarang ada kereta api baru bernama Sriwedari untuk rute Solo-Yogya pulang pergi tutup. Karena penasaran, aku nyoba nanya ke loket sebelah (loket reservasi), ternyata tiket kereta lokal habis semua. Nasib deh. Berhubung hari ini udah semangat banget buat balik maka aku memutuskan untuk balik naik motor, padahal waktu itu jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Tapi, aku gak bilang sama ibu kalau akhirnya pulang naik motor karena pasti gak boleh apalagi waktu itu udah keitung mau malem. Tapi, kalau aku pulangnya gak pada hari itu juga, besoknya dapat dipastikan mood pulangku udah jelek (alias udah males buat balik). Aku memulai perjalanan dari Jogja pukul 17.40 WIB di mana adzan maghrib sudah berkumandang dimana-mana. Untuk detail perjalanan gak akan kuceritakan lebih lanjut karena menurutku gak penting dan gak terlalu ada kaitannya dengan judul di atas. Pukul 19.30 WIB aku sudah memasuki kota Solo, parahnya perutku sudah keroncongan minta diisi akibat dari siang tidak sempat makan. Akhirnya, kuputuskan untuk berhenti sejenak di warung makan mirip angkringan tapi bukan angkringan di dekat rumah sakit Panti Waluyo Surakarta. Kenapa aku memilih tempat itu? Karena ada sensasi yang berbeda ketika kamu makan di warung makan pinggir jalan dengan katakanlah kamu makan di warung makan cepat saji macam Yogya Chicken, Popeye, Olive, Brutus dsb.hehhe. Dan ternyata, hal tersebut terbukti benar kawan-kawan. Ketika aku memulai makan, seorang bapak tukang becak yang lumayan sepuh datang dan mencari roti bolu. Bapak tersebut bertanya kepada si empunya warung apakah jual roti bolu atau tidak. Ternyata si empunya warung punya roti bolu, tapi si Bapak kesulitan mencarinya. Ketika itu aku mencoba membantu dan ketemu. Roti bolu di warung itu tinggal dua. Ketika aku menyodorkan kedua roti bolu tersebut, si Bapak menolak dan hanya mengambil satu, “setunggal mawon”, katanya. Kemudian dia berbicara dengan seorang anak kecil, dan aku baru ngeh kalau ada anak kecil cowok duduk di dalam becak. Kemungkinan besar cucunya. Roti bolu tersebut diberikan kepada anak kecil itu. Kemudian si Bapak mengeluarkan uang dua ribu rupiah untuk membayar roti bolu. Uang itu ternyata sisa kawan. Lalu si Bapak menunjuk makanan seperti kerupuk tapi warna-warni. Kerupuk tersebut sudah jarang dijumpai tapi kalian akan menjumpainya di acara pernikahan di desa-desa yang ada di Jawa Tengah. Harga kerupuk itu ternyata seribu lima ratus, artinya uang si Bapak kurang lima ratus rupiah. Kemudian Bapak tukang becak minta ditunjukkan makanan yang harganya pas seribu, kemudian ada namanya “intip” terbuat dari nasi yang mengering ketika ditanak (bayangkan saja sendiri ya, soalnya saya juga susah jelasinnya, hhehe). Ternyata harganya juga seribu lima ratus kawan. Tapi si ibu yang punya warung akhirnya memberikan makanan tersebut tanpa minta tambahan lima ratus rupiah kepada bapak tukang becak tersebut karena kasihan (ibunya bilang sendiri ke aku ketika bapak tukang becaknya sudah pergi). Ketika melihat kejadian tersebut aku hanya bisa trenyuh karena berpikir bahwa bagi sebagian orang uang lima ratus itu bisa begitu berharga dan mengeluarkan uang dua ribu itu sesuatu yang berat. Analoginya adalah ketika orang yang mampu dengan mudahnya akan mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan ribu untuk memberikan makanan yang terenak dengan kualitas terbaik bagi anak-anak atau cucu mereka. Sedangkan seorang tukang becak hanya dapat memberikan roti bolu seharga seribu untuk cucunya, itu pun hanya mampu satu roti karena bagi dia dua roti mungkin cukup “WAH”. Asalkan cucunya tidak rewel. Yang lebih mengharukan adalah cucunya dengan riang menerima pemberian kakeknya yang sederhana tersebut tanpa protes. Pada saat itu aku berdoa, semoga cucunya kelak menjadi orang yang sukses sehingga dapat membahagiakan kakeknya. Amin. Itulah kenapa kawan, ketika aku di Solo pasti aku akan memilih makan di tempat-tempat seperti itu sendirian. Karena di tempat-tempat seperti itulah terkadang dapat membuat diri kita berfleksi tentang hidup, mencoba peka terhadap lingkungan sekitar dan dapat membuat kita bersyukur karena ternyata masih ada banyak orang yang tidak seberuntung kita. Sebagian dari kita mungkin sangat beruntung karena dapat sekolah di sekolah bagus dan mahal, masih bisa memakai baju yang diinginkan, membeli buku atau novel ketika ada bazaar, memakai gadget keren dan makan di tempat mahal. Tapi mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sebagian yang beruntung tersebut masih harus berpikir keras ketika mengeluarkan uang dua ribu karena uang senilai itu mungkin dianggap sangat berharga. Mereka jangankan makan di tempat mahal, untuk menginjakkan kaki di restoran saja mungkin takut karena di kira juga akan disuruh bayar (lebay, hehhe). Maka dari itu kawan, coba renungkan dan manfaatkan kesempatan dalam hidup sebaik mungkin karena kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka (bapak tukang becak, dll).

0 komentar:

Posting Komentar