Ini pertama kalinya aku bisa tergila-gila sama film korea, sampai pengen banget dech bisa pergi ke negaranya.hhe.. tapi kayaknya juga bukan yang pertama dink, masih ada satu film korea lagi yang membuatku tergila-gila. Jewel in the Palace. Tapi waktu itu aku gak sampai browsing sich, cuma nyari infonya aja di majalah. Soalnya waktu itu aku masih kelas 2 SMP, internet belum ngetrend, warnet aja baru satu dua doank yang ada. Gak seperti sekarang, sampingnya warnet ada warnet.hhihhi...
Hei, back to The Great Queen Seon Deok, awalnya tau film ini gak tertarik, sama kayak aku pertama lihat Jewel in the Palace. Soalnya aku bukan pecinta drama korea. Jadi gak begitu ngeh sama drama-drama korea kayak gini. Tapi temen-temen di sekolahku pada heboh mbahas TGQS, makanya aku jadi ikutan penasaran. Gak taunya pas aku liat, ikutin jalan cerintanya, aku berpikir seperti ini “Gila, drama ini keren juga”. Uh... sampai-sampai aku rela ganti jadwal les buat nonton film ini. Seru banget jalan ceritanya. Oh, ya..setelah aku pikir-pikir nich, kenapa ya dua drama korea yang aku sukai bergenre drama kolosal. Kalau menurutku sich drama kolosal kayak gini punya epic cerita yang bagus, dan basicnya dari sejarah. Hikz..hikz...gak kerasa nich, sekarang sudah memasuki episode-episode terakhir. Sempet gak rela juga sich pisah sama deokman, bidam..apalagi ntar mi shil mati. Padahal dia aktris favoritku, aktingnya bagus banget, gayanya waktu marah sambil tersenyum. Pokoknya perfect dech buat pemeran mi shil. Bisa menampilkan keanggunan dan kesadisan. Kalau buat aktor favoritku, tak diragukan lagi dialah Bidam. Kayaknya hampir semua penonton TGQS setuju dech ma pilihanku. Dia itu keren. He’s half angel and half evil. Siapa sangka Bidam adalah anak Mi Shil dengan Raja Jinjin. Mewarisi sisi gelap Mi Shil dan jiwa seorang prince yang menginginkan kekuasaan. Cocok banget dech kalau akhirnya sama Deok Man. Jujur nich, aku tertarik banget sama karakter Bi dam dalam film ini. Bidam kecil bisa membunuh lusinan orang hanya untuk membuktikan pada gurunya bahwa dia mampu. Dengan tampang innocentnya melaporkan keberhasilan itu kepada gurunya, bangsawan Munno (Moon Noh). Aku rasa yang membuat dia menjadi jahat karena dia terluka, dia terluka oleh ibunya, dia terluka karena cintanya terhadap Deok man. Kasihan ya. Itu sich menurut aku. Mungkin kalian punya another idea about bidam’s black side. Benar yang dikatakan ibunya bahwa bidam memiliki hati yang rapuh. Dia mengalami krisis kepercayaan terhadap cinta deok man. Padahal deok man mencintainya secara tulus. Deok man rela melepas tahta demi bidam, hal yang tidak dilakukannya terhadap Kim Yushin. Ehm...pokoknya aku beneran jatuh cinta sama tokoh ini. Sayang jalan hidupnya sama kayak arti namanya, Bidam juga berarti lagu sedih.
Kalau untuk The Great Queen Seon Deok aku kasih nilai 90 dech. Kenapa gak 100? Akhirnya gak happy ending sich. Kasihan bidam sama deokman, gak bisa bersama walau saling cinta. Kayak Romeo dan Juliet ya..tapi versinya Korea. Mungkin karena akhir yang sad ending ini kali ya yang bikin kita bisa gemes, geregetan sama drama ini. Dan gak bakal bisa ngluapain drama ini. Sekali lagi buat bidam nich,...hhe..dari tadi mbahas bidam terus ya. Sori ya, aku emang bidam lovers nich. Hhe..pokoknya salut banget dech buat Kim Nam Gil, sukses bisa meranin karakter bidam dengan sangat bagus dan membuat karakter ini benar-benar hidup. Congratz, Kim. ^_^
Sebenarnya film ini hanya terjadi pengulangan kisah dan kesalahan yang sama dari setiap tokoh sentral. Kepercayaan yang diberikan deokman kepada bidam telah menjadi bumerang baginya. Sama seperti yang dilakukan raja jenpyoung (ayah deokman) terhadap Mishil yang juga menjadi tonggak awal pengkhianatan Mishil terhadap sang raja. Tapi cerita menjadi lebih mengharukan karena ternyata bidam dan deokman saling mencintai. Sayangnya mereka harus mati dalam akhir yang menyedihkan. So sadness story.
Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita ini. Misalnya hikmah dari tokoh bidam, dia yang berkarakter polos di awal cerita berusaha mengukir nama dalam sejarah lalu jatuh cinta kepada deokman, dia yang mendapatkan kekuasaan dan kepercayaan dari wanita yang dicintainya justru mengkhianatinya dengan pilihan yang salah. Dia yang haus kekuasaan seperti ibunya dan tidak mempercayai cinta deokman malah ingin merebut Silla dan mendapatkan deokman dengan pemberontakan. Hingga akhirnya, dia benar-benar dikenang sejarah, tapi bukan sebagai hero justru dikenang sebagai pemberontak. Aku yakin kalian bisa mengambil hikmah dari kisah bidam. Hikmah tersebut dapat ditampilkan dengan begitu baik oleh karakter-karakter dalam cerita ini yang begitu kuat. Perfect for scripwriternya dech. Intinya film ini memang pantas menjadi drama terbaik di tahun 2009. The Great Queen Seon Deok bukan drama kacangan yang menyuguhkan pemain-pemain good looking. Tapi film ini mampu menyuguhkan epic cerita yang menawan dan pemain yang bisa menampilkan karakter setiap tokoh yang diperankan terasa hidup. Great for The Great Queen Seon Deok
My world..i can tell to you about my experience..everything in my mind..
My Daily Life
Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking
Daily life
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Lencana Facebook
Connect with me
Labels
- artikelQ (2)
- Kajian Gender (1)
- Kajian Sosial (1)
- M (1)
- Making Documentary Film (2)
- my poetry (1)



0 komentar:
Posting Komentar