My Daily Life

Travelling, watching movie, reading, listening, writing, browsing, blogging, stalking

Hari Pertama Produksi

Senin, 17 Agustus 2009
Minggu, 12 Juli 2009
Hari ini adalah hari pertama kita untuk ngambil gambar film dokumenter. Di sini kita mau ngangkat tema tentang anak-anak jalanan. Mungkin tema ini memang sudah umum untuk documentary film, tapi kita mau buat tampilan yang beda untuk film ini. Kita ngambil lokasi syutingnya di Solo, karena kalau mau ambil di Sragen gak mungkin. Di Sragen tidak akan pernah menemukan anak jalanan, karena sudah di tertibkan. Di Solo pun kita harus pintar-pintar memilih lokasi. Tidak semua perempatan Solo masih diperbolehkan anak-anak jalanan berkeliaran. Salah satu tempat strategis di Solo tempat berkumpulnya anak jalanan adalah jl. LU Adisucipto, Depan SMK N 6 Ska atau dekat dengan SMP N 12 Ska. Lokasi ini hanya berjarak 1 km dari Manahan. 

Pertama kita gak tau kala tahu di situ banyak anak jalanannya. Pertama dari sragen kita berangkat lewat Mojosongo, lalu kita jalan terus sampai tanpa sengaja kita liat ada anak jalanan ngamen di depan SMP N 12 Ska. Kita langsung menepi dan parkir sepeda motor di sekitar lokasi tersebut. Pas kita mau mulai ngambil gambar, dari seberang jalan terlihat dua orang cowok yang asli wajahnya sangar banget ngliatin kita. Jelas aja kita syok. Kita takutnya kalau mereka ntar mau ngambil handycam kita dan sebangsanya gitu. Akhirnya kita cabut dech dari situ. Keliling kota Solo lagi buat cari lokasi syuting yang pas..hhe. Ufh..capek gak ketemu-ketemu anak jalanan kita maen aja ke Solo Grand Mall. Buat ngademin pikiran sama mikir mau kemana lagi cari anak jalanan. Di situ kita ngisi perut juga, maklum setelah hampir setengah hari kita keliling Solo, perut protes nich minta diisi. 

Sekitar jam 13.00 WIB kita terusin pencarian, karena gak ketemu juga ma anak-anak jalanan, dan sempet kesasar sampai Sukaharjo, kita akhirnya pasrah aja balik ke dekat SMP N 12 Ska. Ternyata emang di daerah itu tempat pengamen yang belum tergusur. Pas di situ banyak banget anak jalanannya, bahkan lebih banyak daripada tadi pagi pas kita datang. Enaknya nich, dua cowok sangar yang tadi ngliatin kita terus udah gak ada. The first step kita coba lakukan pendekatan dulu sama mereka, tanya-tanya gitu dech. Dilanjutkan ngasih penjelasan apa alasan kita buat datang ke situ yaitu, making documentary film. Tapi adik-adik pengamennya gak mau, soalnya ada yang trauma sama kamera. Gara-gara ada wartawan dari sebuah media cetak ngambil gambar mereka tanpa sepengetahuan dan ijin mereka, tahu-tahu esoknya wajah mereka sudah terpampang di koran. Karena mereka gak mau, walaupun sudah dipaksa tapi tetep aja keukeuh gak mau ya udah mau di apain lagi. Tapi kita gak putus asa, kita minta sama mereka buat cariin narasumber buat film kita. Ouw ya...di situ mereka ngira kita anak kuliahan, untuk amannya sich kita iyakan saja. Soalnya anak-anak jalanan ini usianya hanya terpaut satu atau dua tahun lebih muda daripada kita. 

Ehm..di penghujung peluh kita, akhirnya ada juga anak jalanan yang mau kita jadiin narasumber film kita. Namanya dik Slamet, dia baru berusia 12 tahun ibunya meninggal sejak dia kelas satu SD dan sejak itu pula dia putus sekolah. Sekarang dia hanya tinggal di kamar kontrakan sempit bersama dua adik dan satu kakaknya. Anaknya baik banget, ramah, polos, apa adanya. Pokoknya beda sama anak-anak jalanan lainnya. Selesai wawancara kita langsung balik ke Sragen, karena hari sudah menjelang sore. 

Ufh....hari yang melelahkan tapi membuatku belajar banyak hal. Bahwa kehidupan anak jalanan itu ternyata keras. Mereka punya kehidupan yang unik untuk kita pelajari. Mereka pun sebenarnya baik jika kita juga baik dan bersahabat dengan mereka. Buktinya mereka berusaha melindungi kita dari para pengamen yang lebih tua dari mereka. Pas itu kita tanya pada mereka bahwa selain jalan depan SMK N 6 Ska anak-anak jalanan biasanya ngumpul dimana, mereka jawabnya di terminal tapi terus mereka bilang gini “gak usah ke sana, mbak. Di sana banyak pengamen-pengamen yang udah gede, nanti mbak malah di gangguin sama mereka.” Tuh kan, bisa bayangin gak betapa baiknya mereka. Itu artinya mereka perhatian sama kita. Coba kalau gak, mereka pasti cuek aja kita mau diapain sama pengamen-pengamen itu. Dan satu hal penting adalah jangan pernah meremehkan mereka, karena mereka juga manusia yang mempunyai derajat sama di mata Tuhan, selain itu mereka tetaplah manusia biasa yang punya mimpi serta harapan. Meskipun harus kandas di tengah jalan.  

by : Virdita R.R.


0 komentar:

Posting Komentar